Kamis, 12 April 2018

Presentasi hasil uji coba rubrik penilaian otentik dengan menggunakan skala Guttmen, thrustone dan semantic different


Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data kuantitatif.

Dilihat dari bentuk instrument dan pernyataan yang dikembangkan dalam instrument, maka kita mengenal berbagai bentuk skala yang dapat digunakan dalam pengukuran bidang pendidikan, yaitu: skala Likert, skala Guttman, Semantic Differensial, dan skala Thurstone. Berikut akan dijelaskan secara ringkas masing-masing bentuk skala pengukuran dalam penelitian.

1.      Skala Guttman
Skala Guttman dikembangkan oleh Louis Sumber : Guttman. Skala Guttman disebut juga dengan Scalogram atau analisis skala (Scale Analysis). Louis Guttman mengembangkan skala ini untuk mengatasi masalah yang dihadapi oleh Likert dan Thurstone. Di samping itu, skala Guttman mempunyai asumsi menurut Babbie (Sukardi, 2011:149) bahwa dasar dari fakta di mana beberapa item di bawah pertimbangan yang harus dibuktikan menjadi petunjuk kuat satu variabel dibanding variabel lainnya.

Skala pengukuran dengan tipe ini akan didapatkan jawaban yang tegas. diantaranya : ‘ya’ dan ‘tidak’; ‘benar-salah’, dan lain-lain. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikhotomi (dua alternatif). Jadi, kalau pada Skala Likert terdapat 1,2,3,4,5 interval, dari kata ‘sangat setuju’ sampai ‘sangat tidak setuju’, maka pada Skala Guttman hanya ada dua interval yaitu ‘setuju’ atau ‘tidak setuju’
Penelitian menggunakan Skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan. Skala ini mempunyai ciri penting, yaitu merupakan skala kumulatif dan mengukur satu dimensi saja dari satu variabel.
Skala Guttman memiliki beberapa ciri penting, yaitu:

·         Skala Guttman merupakan skala komulatif. Jika seseorang responden mengiyakan pertanyaan atau pernyataan yang berbobot lebih berat, maka ia juga akan mengiyakan pertanyaan atau pernyataan yang kurang berbobot lainya.
·         Skala Guttman mengukur satu dimensi saja dari suatu variabel yang multidimensi, sehingga skala ini mempunyai sifat unidimensional.

Tujuan utama pembuatan skala Guttman pada prinsipnya untuk menentukan jika sikap yang diteliti benar-benar mencakup berdimensi tunggal. Sikap dikatakan berdimensi tunggal bila sikap tersebut menghasilkan skala komulatif. Sebagai misal, jika seorang responden yang setuju terhadap item 2, maka ia berarti juga setuju terhadap item 1. Jika seorang responden yang setuju dengan item 3, maka juga ia setuju dengan item 2 dan 1, demikian seterusnya.

Skala Guttman merupakan skala yang digunakan untuk memperoleh jawaban dari responden yang bersifat jelas (tegas) dan konsisten. Kata-kata yang digunakan, misalnya: ya – tidak, benar – salah, positif – negatif, yakin – tidak yakin dan sebagainya. Data yang diperoleh berupa data interval atau rasio dikotomi (dua alternatif pilihan). Pada skala Guttman hanya mempunyai dua skor, misal pada sikap yang mendukung sesuai dengan pertanyaan atau pernyataan diberi skor 1 dan sikap yang tidak mendukung sesuai dengan pertanyaan atau pernyataan diberi skor 0.

Cara membuat skala guttman adalah sebagai berikut:
1.      Susunlah sejumlah pertanyaan yang relevan dengan masalah yang ingin diselidiki.
2.      Lakukan penelitiaan permulaan pada sejumlah sampel dari populasi yang akan diselidiki, sampel yang diselidiki minimal besarnya 50.
3.      Jawaban yang diperoleh dianalisis, dan jawaban yang ekstrim dibuang. Jawaban yang ekstrim adalah jawaban yang disetujui atau tidak disetujui oleh lebih dari 80% responden.
4.      Susunlah jawaban pada tabel Guttman. 
5.      Hitunglah koefisien reprodusibilitas dan koefisien skalabilitas.

Contoh minat dalam pelajaran kimia
1.      Apakah anda menyukai pelajaran kimia?
a.       Ya               b. Tidak
2.      Bagaimana pendapat anda, bila pembelajaran kimia menggunakan laboratorium virtual?
a.       Setuju         b. Tidak Setuju


2.      Skala Thurstone
Skala thrustone merupakan teknik formal yang pertama bagi pengukuran suatu sikap yang dikembangkan oleh Louis L. Thurstone pada tahun 1928. Skala thurstone terdiri dari sejumlah pertanyaan dalam hal mana responden ditanya tentang setuju atau tidak setujunya. Dalam skala thrustone penilai memberikan tanda centang (dibawah kolom setuju (agree) atau tidak setuju (disagree) atau dibawah kolom angka yang menggambarkan kontinum, dari yang dianggap paling sesuai dengan pernyataan sampai yang dianggap tidak sesuai dengan pernyataan.
Contoh: Minat dalam pembelajaran kimia
Pernyataan
7
6
5
4
3
2
1
1.    Saya suka belajar kimia
2.    Pelajaran kimia sangat bermanfaat
3.    Saya berusaha hadir setiap ada pelajaran kimia
4.    Pelajaran kimia membosankan
Dan seterusnya…
3.      Skala Semantic Differential
Perbedaan Semantik (Semantic Differential) dikembangkan oleh C.E Osgood, Suci dan Tannenbaum dengan maksud untuk mengukur pengertian suatu obyek atau konsep oleh seseorang. Responden diminta untuk menilai suatu obyek atau konsep, (misalnya: sekolah, guru, pelajaran dan sebagainya). Skala bipolar adalah skala yang berlawanan dan mempunyai tiga dimensi dasar sikap seseorang terhadap obyek atau konsep tersebut. Menurut Iskandar (2000:154) tiga dimensi yang dimaksud, yaitu:

1.Potensi, yaitu kekuatan atau atraksi fisik suatu obyek.
2.Evaluasi, yaitu hal-hal yang menguntungkan atau tidak menguntungkan suatu obyek.
3.Aktivitas, yaitu tingkatan gerakan suatu obyek

Sifat dari tiga dimensi tersebut, misalnya sebagai berikut ini.


Dalam penelitian, skala perbedaan semantik (Semantic Differential) dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana pandangan seseorang terhadap suatu obyek atau konsep apakah sama atau berbeda. Obyek atau konsep dapat menjangkau banyak masalah, seperti: masalah politik, pendidikan, sekolah seseorang dan sebagainya. Suatu contoh dari alat ukur yang digunakan untuk menilai sekolah menurut Kerlinger (Nazir, 2009:344) sebagai berikut.


Huruf dalam tanda kurung menyatakan: A (Aktivitas), E (Evaluasi) dan P (Potensi). Penempatan sifat bipolar tidak boleh monoton, dari baik ke buruk, tetapi kadangkala dibalik seperti ditandai oleh *. Hal ini dilakukan agar dapat menghindari tendensi bias dari responden.

Langkah-langkah dalam menyusun skala perbedaan semantik (semantic differensial) menurut Nazir (2009:345) sebagai berikut ini.
1.      Tentukan obyek atau konsep yang diukur.
2.      Pilih sifat bipolar yang relevan dengan masalah yang diteliti.
3.      Untuk mencari sifat bipolar yang sesuai dengan obyek atau konsep yang diinginkan, maka terlebih dahulu perlu dicari jawaban dari dua kelompok yang berbeda secara empiris.

Contoh : Penilaian pelajaran kimia
Menyenangkan  !……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..! Membosankan
Sulit                   !……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..! Mudah
Bermanfaat        !……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..! Sia-Sia
Menantang         !……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..! Menjemukan

PERMASALAHAN:
Dalam penilaian otentik ada 3 ranah penilaian, diantaranya yaitu : ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Teknik penilaian dan Instrumen yang digunakan dalam menilai ketiga ranah tersebut berbeda-beda,  misalnya pada ranah afektif terdiri dari observasi, self assesment, peer assesment dan jurnal.
Yang ingin saya tanyakan, pada ranah apakah kita bisa menggunakan skala semantic different dan pada instrumen yang mana? Jelaskan dengan contoh!

BIJAKSANA SEBAGAI KEPALA LABOR DAN BIJAKSANA SEBAGAI LABORAN

TUGAS POKOK DAN FUNGSI KEPALA LABORATORIUM KIMIA

  1. Pengendali utama dalam merencanakan, memenuhi fasilitas kegiatan di laboratorium Kimia untuk pembelajaran yang kreatif dan inovatif
  2. Membina teknisi laboran
  1. Koordinator pengembangan praktikum-praktikum alternatif untuk menunjang pembelajaran teori  Kimia di dalam kelas.
  2. Fasilitator untuk kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dengan menggunakan peralatan yang terdapat di laboratorium Kimia
  3. Pengendali utama dalam pemanfaatan semua sumberdaya yang terdapat di dalam laboratorium Kimia
  4. Panutan bagi teknisi / laboran dalam mengembangkan semua sumberdaya yang ada, termasuk dalam mengembangkan praktikum-praktikum baru melalui perakitan peralatan yang dimiliki laboratorium Kimia
  5. Penganggungjawab utama atas semua kegiatan yang dilaksanakan di laboratorium Kimia


TUGAS POKOK DAN FUNGSI LABORAN KIMIA

  1. Menjaga keamanan ruang dan peralatan laboratorium;
  2. Melayani penggunaan ruang, kebutuhan peralatan dan bahan praktik peserta didik dan pendidik;
  3. Menginventarisasi dan mendokumentasikan semua peralatan, bahan, dokumen termasuk petunjuk penggunaan alat, dan fasilitas laboratorium;
  4. Mendeteksi dan memperbaiki peralatan laboratorium dengan kerusakan ringan;
  5. Menjaga kebersihan alat dan lingkungan laboratorium;
  6. Menyimpan dan memelihara alat dan bahan praktik;
  7. Menangani  limbah laboratorium sesuai dengan prosedur keselamatan dan kesehatan;
  8. Membuat laporan kerusakan peralatan laboratorium dan mengusulkan program perbaikannya; serta
  9. Membuat laporan semester dan tahunan kebutuhan, penggunaan peralatan dan bahan praktik.

Rabu, 04 April 2018

PENILAIAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DALAM PEMBELAJARAN KIMIA


Keterampilan proses sains (KPS) adalah perangkat kemampuan kompleks yang biasa digunakan oleh para ilmuwan dalam melakukan penyelidikan ilmiah ke dalam rangkaian proses pembelajaran. Menurut Dahar (1996), keterampilan proses sains (KPS) adalah kemampuan siswa untuk menerapkan metode ilmiah dalam memahami, mengembangkan dan menemukan ilmu pengetahuan. KPS sangat penting bagi setiap siswa sebagai bekal untuk menggunakan metode ilmiah dalam mengembangkan sains serta diharapkan memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki.

Keterampilan proses sains dalam pembelajaran kimia merupakan kemampuan siswa untuk mengelola (memperoleh) yang didapat dalam kegiatan belajar mengajar kimia yang memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk mengamati peristiwa atau objek kimia, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian, mengkomunikasikan hasil perolehan dalam praktikum atau diskusi pada pembelajaran kimia.
KPS terdiri dari sejumlah keterampilan tertentu. Klasifikasi KPS adalah sebagai berikut:
1.      Mengamati
Mengamati adalah proses pengumpulan data tentang fenomena atau peristiwa dengan menggunakan inderanya. Untuk dapat menguasai keterampilan mengamati, siswa harus menggunakan sebanyak mungkin inderanya, yakni melihat, mendengar, merasakan, mencium dan mencicipi. Dengan demikian dapat mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dan memadai.
2.      Mengelompokkan/Klasifikasi
Mengelompokkan adalah suatu sistematika yang digunakan untuk menggolongkan sesuatu berdasarkan syarat-syarat tertentu. Proses mengklasifikasikan tercakup beberapa kegiatan seperti mencari kesamaan, mencari perbedaan, mengontraskan ciri-ciri, membandingkan, dan mencari dasar penggolongan.
3.      Menafsirkan
Menafsirkan hasil pengamatan ialah menarik kesimpulan tentatif dari data yang dicatatnya.  Hasil-hasil pengamatan tidak akan berguna bila tidak ditafsirkan. Karena itu, dari mengamati langsung, lalu mencatat setiap pengamatan secara terpisah, kemudian menghubung-hubungkan hasil-hasil pengamatan itu. Selanjutnya siswa mencoba menemukan pola dalam suatu seri pegamatan, dan akhirnya membuat kesimpulan.
4.      Meramalkan
Meramalkan adalah memperkirakan berdasarkan pada data hasil pengamatan yang reliabel (Firman, 2000). Apabila siswa dapat menggunakan pola-pola hasil pengamatannya untuk mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang belum diamatinya, maka siswa tersebut telah mempunyai kemampuan proses meramalkan.
5.      Mengajukan pertanyaan
Keterampilan proses mengajukan pertanyaan dapat diperoleh siswa dengan mengajukan pertanyaan apa, mengapa, bagaimana, pertanyaan untuk meminta penjelasan atau pertanyaan yang berlatar belakang hipotesis.
6.      Merumusakan hipotesis
Hipotesis adalah suatu perkiraan yang beralasan untuk menerangkan suatu kejadian atau pengamatan tertentu.
7.      Merencanakan percobaan
Agar siswa dapat memiliki keterampilan merencanakan percobaan maka siswa tersebut harus dapat menentukan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan. Selanjutnya, siswa harus dapat menentukan variabel-variabel, menentukan variabel yang harus dibuat tetap, dan variabel mana yang berubah. Demikian pula siswa perlu untuk menentukan apa yang akan diamati, diukur, atau ditulis, menentukan cara dan langkah-langkah kerja. Selanjutnya siswa dapat pula menentukan bagaimana mengolah hasil-hasil pengamatan.
8.      Menggunakan alat dan bahan
Untuk dapat memiliki keterampilan menggunakan alat dan bahan, dengan sendirinya siswa harus menggunakan secara langsung alat dan bahan agar dapat memperoleh pengalaman langsung. Selain itu, siswa harus mengetahui mengapa dan bagaimana cara menggunakan alat dan bahan.
9.      Menerapkan konsep
Keterampilan menerapkan konsep dikuasai siswa apabila siswa dapat menggunakan konsep yang telah dipelajarinya dalam situasi baru atau menerapkan konsep itu pada pengalaman-pengalaman baru untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi.
10.  Berkomunikasi
Keterampilan ini meliputi keterampilan membaca grafik, tabel, atau diagram dari hasil percobaan. Menggambarkan data empiris dengan grafik, tabel, atau diagram juga termasuk berkomunikasi. Menurut Firman (2000), keterampilan berkomunikasi adalah keterampilan menyampaikan gagasan atau hasil penemuannya kepada orang lain.

Menurut Smith dan Welliver, pelaksanaan penilaian keterampilan proses dapat dilakukan dalam beberapa bentuk, diantaranya:

1.        Pretes dan postes.  
Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa pada awal tahun sekolah. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan kekuatan dan kelemahan dari masing-masing siswa dalam keterampilan yang telah diidentifikasi. Pada akhir tahun sekolah, guru melaksanakan tes kembali untuk mengetahui perkembangan skor siswa setelah mengikuti pembelajaran sains.
2.        Diasnotic
Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa pada awal tahun ajaran. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan pada bagian mana siswa memerlukan bantuan dengan keterampilan proses. Kemudian guru merencanakan pelajaran dan kegiatan laboratorium yang dirancang untuk mengatasi kekurangan siswa.
3.        Penempatan kelas.
Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa sebagai salah satu kriteria dalam penempatan kelas. Misalnya, criteria untuk memasuki kelas akselerasi, kelas sains atau kelas unggulan.
4.        Pemilihan kompetisis siswa.
Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains siswa sebagai kriteria utama dalam pemilihan siswa yang akan ikut dalam lomba-lomba sains. Jika siswa memiliki skor tes tinggi, maka dia akan dapat mengikuti lomba sains dengan baik.
5.        Bimbingan karir.
Biasanya para peneliti melakukan uji coba menggunakan penilaian keterampilan proses sains untuk mengidentifikasi siswa yang memiliki potensi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dibina.

Penilaian keterampilan proses sains dilakukan dengan menggunakan instrumen yang disesuaikan dengan materi  dan tingkat perkembangan siswa atau tingkatan kelas (Rezba, 1999). Oleh karena itu, penyusunan instrumen penilaian harus direncanakan secara cermat sebelum digunakan.  Menurut Widodo (2009), penyusunan instrumen untuk penilaian terhadap keterampilan proses siswa dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1.        Mengidentifikasikan jenis keterampilan proses sains yang akan dinilai.
2.        Merumuskan indikator untuk setiap jenis keterampilan proses sains.
3.        Menentukan dengan cara bagaimana keterampilan proses sains tersebut diukur (misalnya apakah tes unjuk kerja, tes tulis, ataukah tes lisan).
4.        Membuat kisi-kisi instrumen.
5.        Mengembangkan instrumen pengukuran keterampilan proses sains berdasarkan kisi-kisi yang dibuat. Pada saat ini perlu mempertimbangkan konteks dalam item tes keterampilan proses sains dan tingkatan keterampilan proses sains (objek tes)
6.        Melakukan validasi instrumen.
7.        Melakukan ujicoba terbatas untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas empiris.
8.        Perbaikan butir-butir yang belum valid.
9.        Terapkan sebagai instrumen penilaian keterampilan proses sains dalam pembelajaran sains.

Pada langkah-langkah penyusunan instrument di atas, pencarian validitas dan reabilitas empiris terutama dilakukan untuk penilaian keterampilan proses sains yang beresiko tinggi. Penilaian yang beresiko tinggi yang dimaksud adalah penilaian dalam penelitian, penilaian dalam skala besar atau penilaian untuk tujuan tertentu.

Pengukuran terhadap keterampilan proses siswa, dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen tertulis. Pelaksanaan pengukuran dapat dilakukan secara tes (paper and pencil test) dan bukan tes. Penilaian melalui tes dapat dilakukan dalam bentuk tes tertulis (paper and pencil test). Sedangkan penilaian melalui bukan tes dapat dilakukan dalam bentuk observasi atau pengamatan. Penilaian dalam keterampilan proses agak sulit dilakukan melalui tes tertulis dibandingkan dengan teknik observasi. Namun demikian, menggunakan kombinasi kedua teknik penilaian tersebut dapat meningkatkan akurasi penilaian terhadap keterampilan proses sains.

Penilaian keterampilan proses melalui tes tertulis

Penilaian secara tertulis terhadap keterampilan proses sains dapat dilakukan dalam bentuk essai dan pilihan ganda . Pertanyaan yang disusun dalam bentuk pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen. Penilaian dalam bentuk essai memerlukan jawaban yang berupa pembahasan atau uraian kata-kata. Jawaban yang dituliskan oleh siswa akan lebih bersifat subjektif, yang berarti menggambarkan pemahaman yang lebih indiviualistik.

Penilaian keterampilan proses melalui bukan tes


Penilaian melalui keterampilan proses sains melalui bukan tes dapat dilakukan dalam bentuk observasi atau pengamatan. Pengamatan dalam penilaian ini dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Selama proses kegiatan pembelajaran sains dilaksanakan, guru dapat melakukan penilaian dengan mengamati perilaku siswa secara langsung dalam menunjukkan kemampuan keterampilan proses sains yang dimiliki. Selain itu, hasil-hasil pekerjaan tugas siswa atau produk hasil belajar siswa juga dapat diamati untuk menilai keterampilan proses siswa secara integrative.


Sebuah contoh rubrik penilaian untuk mengukur kegiatan percobaan laboratorium dapat disajikan, sebagai berikut:


Tabel 1. Rubrik Percobaan Laboratorium

Kriteria
Skor
4
(sangat baik)
3
(baik)
2
(cukup)
1
(kurang)
Tujuan percobaan
Mengidentifikasi tujuan dan cirri khusus
Mengidentifikasi tujuan
Mengidentifikasi sebagian tujuan
Salah mengidentifikasi tujuan
Alat dan Bahan
Melist semua alat dan bahan
Melist semua bahan
Melist beberapa bahan
Salah melist bahan
Hypotesis
Memprediksi dengan benar fakta dan membuat hipotesis
Memprediksi dengan benar fakta
Memprediksi dengan beberapa fakta
Menebak-nebak
Prosedur
Melist semua tahap dan detail-detail khusus
Melist semua tahap
Melist beberapa tahap
Salah melist tahap
Hasil
Data direkam, diorganisir, dan digrafiskan
Data direkam, diorganisir
Data direkam
Hasil salah atau tidak betul
Simpulan
Tampak memahami konsep dan membuat hipotesis baru untuk aplikasi pada situasi lain.
Tampak memahami konsep yang telah dipelajari
Tampak memahami beberapa konsep
Tidak ada kesimpulan atau tampak miskonsepsi



Sebagaimana pada contoh di atas, sebuah rubrik memuat dua komponen, yaitu kriteria dan level unjuk kerja (performance). Pada setiap rubrik terdiri atas minimal dua criteria dan dua level unjuk kerja. Kriteria biasanya ditempatkan pada kolom paling kiri, sedangkan level unjuk kerja ditempatkan pada baris paling atas dalam tabel rubrik. Untuk memudahkan dalam penggunaannya, level unjuk kerja terdiri atas level kuantitatif berupa angka (1, 2, 3, dan 4) dan level kualitatif.

Dalam rubrik biasanya juga disertai dengan deskriptor. Dekriptor menyatakan harapan kondisi siswa pada setiap level unjuk kerja untuk setiap kriteria. Pada contoh rubrik, dapat dilihat adanya perbedaan diskriptor antara tujuan kegiatan yang dirumuskan dengan sangat baik dan tujuan kegiatan yang dirumuskan dengan baik. Pada deskriptor, siswa dapat melihat syarat unjuk kerja untuk mencapai sebuah level kriteria. Bagi guru, deskriptor dapat membantu guru untuk memberikan penilaian secara konsisten pada hasil kerja siswa.

Dalam implementasinya, penilaian melalui observasi dengan menggunakan rubrik penilaian memiliki beberapa keunggulan. Ketika rubrik penilaian ini dikomunikasikan kepada siswa di awal pembelajaran, ekspektasi terhadap pencapaian level keterampilan proses dapat diidentifikasikan dan dipahami secara baik oleh siswa. Observasi dapat menghasilkan penilaian yang konsisten dan obyektif. Selain itu, hasil penilaian dapat menghasilkan umpan balik (feedback) yang lebih baik. Hasil penilaian dapat menunjukkan level khusus performans siswa selanjutnya yang harus dicapai oleh siswa.

Dengan demikian, perihal rencana penilaian yang dilakukan untuk mengukur keterampilan proses sains dapat dikomunikasikan secara pasti kepada siswa sebelum pelaksanaan pembelajaran. Siswa sebagai subyek pembelajaran dapat menentukan target yang harus dicapai selama proses pembelajaran berlangsung. Penilaian pun dapat mencapai tujuan sebagaimana mestinya.


Permasalahan :

Pada artikel ini dijelaskan bahwa ada beberapa jenis aspek penilaian dalam keterampilan proses sains diantaranya : mengamati, mengelompokkan/klasifikasi, menafsirkan, meramalkan, mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep, dan  berkomunikasi.


Dalam penyusunan instrumen untuk penilaian terhadap keterampilan proses sains siswa, apakah semua aspek penilaian tersebut harus ada dalam instrumen. Atau beberapa jenis aspek penilaian saja? Jelaskan menurut pendapat anda!


Presentasi hasil uji coba rubrik penilaian otentik dengan menggunakan skala Guttmen, thrustone dan semantic different

Skala pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, ...