Keterampilan proses sains (KPS) adalah perangkat kemampuan kompleks yang biasa digunakan
oleh para ilmuwan dalam melakukan penyelidikan ilmiah ke dalam rangkaian proses
pembelajaran. Menurut Dahar (1996), keterampilan proses sains (KPS) adalah
kemampuan siswa untuk menerapkan metode ilmiah dalam memahami, mengembangkan
dan menemukan ilmu pengetahuan. KPS sangat penting bagi setiap siswa sebagai
bekal untuk menggunakan metode ilmiah dalam mengembangkan sains serta
diharapkan memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang
telah dimiliki.
Keterampilan
proses sains dalam pembelajaran kimia merupakan kemampuan siswa
untuk mengelola (memperoleh) yang didapat dalam kegiatan belajar mengajar kimia
yang memberikan kesempatan seluas-luasnya pada siswa untuk mengamati peristiwa
atau objek kimia, menggolongkan, menafsirkan, meramalkan, menerapkan, merencanakan
penelitian, mengkomunikasikan hasil perolehan dalam praktikum atau diskusi pada
pembelajaran kimia.
KPS terdiri dari sejumlah keterampilan tertentu.
Klasifikasi KPS adalah sebagai berikut:
1. Mengamati
Mengamati adalah proses pengumpulan data tentang fenomena atau peristiwa
dengan menggunakan inderanya. Untuk dapat menguasai keterampilan mengamati,
siswa harus menggunakan sebanyak mungkin inderanya, yakni melihat, mendengar, merasakan,
mencium dan mencicipi. Dengan demikian dapat mengumpulkan fakta-fakta yang
relevan dan memadai.
2. Mengelompokkan/Klasifikasi
Mengelompokkan adalah suatu sistematika yang digunakan untuk menggolongkan
sesuatu berdasarkan syarat-syarat tertentu. Proses mengklasifikasikan tercakup
beberapa kegiatan seperti mencari kesamaan, mencari perbedaan, mengontraskan
ciri-ciri, membandingkan, dan mencari dasar penggolongan.
3. Menafsirkan
Menafsirkan hasil pengamatan ialah menarik kesimpulan tentatif dari data
yang dicatatnya. Hasil-hasil pengamatan tidak akan berguna bila tidak
ditafsirkan. Karena itu, dari mengamati langsung, lalu mencatat setiap
pengamatan secara terpisah, kemudian menghubung-hubungkan hasil-hasil
pengamatan itu. Selanjutnya siswa mencoba menemukan pola dalam suatu seri
pegamatan, dan akhirnya membuat kesimpulan.
4. Meramalkan
Meramalkan adalah memperkirakan berdasarkan pada data hasil pengamatan
yang reliabel (Firman, 2000). Apabila siswa dapat menggunakan pola-pola hasil
pengamatannya untuk mengemukakan apa yang mungkin terjadi pada keadaan yang
belum diamatinya, maka siswa tersebut telah mempunyai kemampuan proses
meramalkan.
5. Mengajukan
pertanyaan
Keterampilan proses mengajukan pertanyaan dapat diperoleh siswa dengan
mengajukan pertanyaan apa, mengapa, bagaimana, pertanyaan untuk meminta
penjelasan atau pertanyaan yang berlatar belakang hipotesis.
6. Merumusakan
hipotesis
Hipotesis adalah suatu perkiraan yang beralasan untuk menerangkan suatu
kejadian atau pengamatan tertentu.
7. Merencanakan
percobaan
Agar siswa dapat memiliki keterampilan merencanakan percobaan maka siswa
tersebut harus dapat menentukan alat dan bahan yang akan digunakan dalam
percobaan. Selanjutnya, siswa harus dapat menentukan variabel-variabel,
menentukan variabel yang harus dibuat tetap, dan variabel mana yang berubah.
Demikian pula siswa perlu untuk menentukan apa yang akan diamati, diukur, atau
ditulis, menentukan cara dan langkah-langkah kerja. Selanjutnya siswa dapat
pula menentukan bagaimana mengolah hasil-hasil pengamatan.
8. Menggunakan
alat dan bahan
Untuk dapat memiliki keterampilan menggunakan alat dan bahan, dengan
sendirinya siswa harus menggunakan secara langsung alat dan bahan agar dapat
memperoleh pengalaman langsung. Selain itu, siswa harus mengetahui mengapa dan
bagaimana cara menggunakan alat dan bahan.
9. Menerapkan
konsep
Keterampilan menerapkan konsep dikuasai siswa apabila siswa dapat
menggunakan konsep yang telah dipelajarinya dalam situasi baru atau menerapkan
konsep itu pada pengalaman-pengalaman baru untuk menjelaskan apa yang sedang
terjadi.
10. Berkomunikasi
Keterampilan ini meliputi keterampilan membaca grafik, tabel, atau diagram
dari hasil percobaan. Menggambarkan data empiris dengan grafik, tabel, atau
diagram juga termasuk berkomunikasi. Menurut Firman (2000), keterampilan
berkomunikasi adalah keterampilan menyampaikan gagasan atau hasil penemuannya
kepada orang lain.
Menurut Smith dan Welliver,
pelaksanaan penilaian keterampilan proses dapat dilakukan dalam beberapa
bentuk, diantaranya:
1.
Pretes dan postes.
Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains
siswa pada awal tahun sekolah. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan
kekuatan dan kelemahan dari masing-masing siswa dalam keterampilan yang telah
diidentifikasi. Pada akhir tahun sekolah, guru melaksanakan tes kembali untuk
mengetahui perkembangan skor siswa setelah mengikuti pembelajaran sains.
2.
Diasnotic
Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains
siswa pada awal tahun ajaran. Penilaian ini bertujuan untuk menentukan pada
bagian mana siswa memerlukan bantuan dengan keterampilan proses. Kemudian guru
merencanakan pelajaran dan kegiatan laboratorium yang dirancang untuk mengatasi
kekurangan siswa.
3.
Penempatan kelas.
Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains
siswa sebagai salah satu kriteria dalam penempatan kelas. Misalnya, criteria
untuk memasuki kelas akselerasi, kelas sains atau kelas unggulan.
4.
Pemilihan kompetisis siswa.
Guru melaksanakan penilaian keterampilan proses sains
siswa sebagai kriteria utama dalam pemilihan siswa yang akan ikut dalam
lomba-lomba sains. Jika siswa memiliki skor tes tinggi, maka dia akan dapat
mengikuti lomba sains dengan baik.
5.
Bimbingan karir.
Biasanya para peneliti melakukan uji coba menggunakan
penilaian keterampilan proses sains untuk mengidentifikasi siswa yang memiliki
potensi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dibina.
Penilaian keterampilan proses sains dilakukan dengan
menggunakan instrumen yang disesuaikan dengan materi dan tingkat
perkembangan siswa atau tingkatan kelas (Rezba, 1999). Oleh karena itu, penyusunan
instrumen penilaian harus direncanakan secara cermat sebelum digunakan.
Menurut Widodo (2009), penyusunan instrumen untuk penilaian terhadap
keterampilan proses siswa dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai
berikut:
1.
Mengidentifikasikan
jenis keterampilan proses sains yang akan dinilai.
2.
Merumuskan
indikator untuk setiap jenis keterampilan proses sains.
3.
Menentukan
dengan cara bagaimana keterampilan proses sains tersebut diukur (misalnya
apakah tes unjuk kerja, tes tulis, ataukah tes lisan).
4.
Membuat
kisi-kisi instrumen.
5.
Mengembangkan
instrumen pengukuran keterampilan proses sains berdasarkan kisi-kisi yang
dibuat. Pada saat ini perlu mempertimbangkan konteks dalam item tes
keterampilan proses sains dan tingkatan keterampilan proses sains (objek tes)
6.
Melakukan
validasi instrumen.
7.
Melakukan
ujicoba terbatas untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas empiris.
8.
Perbaikan
butir-butir yang belum valid.
9.
Terapkan
sebagai instrumen penilaian keterampilan proses sains dalam pembelajaran sains.
Pada langkah-langkah penyusunan instrument di atas,
pencarian validitas dan reabilitas empiris terutama dilakukan untuk penilaian
keterampilan proses sains yang beresiko tinggi. Penilaian yang beresiko tinggi
yang dimaksud adalah penilaian dalam penelitian, penilaian dalam skala besar
atau penilaian untuk tujuan tertentu.
Pengukuran terhadap keterampilan proses siswa, dapat
dilakukan dengan menggunakan instrumen tertulis. Pelaksanaan pengukuran dapat
dilakukan secara tes (paper and pencil test) dan bukan tes. Penilaian melalui
tes dapat dilakukan dalam bentuk tes tertulis (paper and pencil test).
Sedangkan penilaian melalui bukan tes dapat dilakukan dalam bentuk observasi
atau pengamatan. Penilaian dalam keterampilan proses agak sulit dilakukan
melalui tes tertulis dibandingkan dengan teknik observasi. Namun demikian,
menggunakan kombinasi kedua teknik penilaian tersebut dapat meningkatkan
akurasi penilaian terhadap keterampilan proses sains.
Penilaian keterampilan proses melalui tes tertulis
Penilaian secara tertulis terhadap keterampilan proses
sains dapat dilakukan dalam bentuk essai dan pilihan ganda . Pertanyaan yang
disusun dalam bentuk pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen. Penilaian
dalam bentuk essai memerlukan jawaban yang berupa pembahasan atau uraian
kata-kata. Jawaban yang dituliskan oleh siswa akan lebih bersifat subjektif,
yang berarti menggambarkan pemahaman yang lebih indiviualistik.
Penilaian keterampilan proses melalui
bukan tes
Penilaian melalui keterampilan proses
sains melalui bukan tes dapat dilakukan dalam bentuk observasi atau pengamatan.
Pengamatan dalam penilaian ini dapat dilakukan secara langsung maupun tidak
langsung. Selama proses kegiatan pembelajaran sains dilaksanakan, guru dapat
melakukan penilaian dengan mengamati perilaku siswa secara langsung dalam
menunjukkan kemampuan keterampilan proses sains yang dimiliki. Selain itu,
hasil-hasil pekerjaan tugas siswa atau produk hasil belajar siswa juga dapat
diamati untuk menilai keterampilan proses siswa secara integrative.
Sebuah contoh rubrik penilaian untuk
mengukur kegiatan percobaan laboratorium dapat disajikan, sebagai berikut:
Tabel 1. Rubrik Percobaan
Laboratorium
Kriteria
|
Skor
|
|||
4
(sangat baik)
|
3
(baik)
|
2
(cukup)
|
1
(kurang)
|
|
Tujuan percobaan
|
Mengidentifikasi tujuan dan cirri khusus
|
Mengidentifikasi tujuan
|
Mengidentifikasi sebagian tujuan
|
Salah mengidentifikasi tujuan
|
Alat dan Bahan
|
Melist semua alat dan bahan
|
Melist semua bahan
|
Melist beberapa bahan
|
Salah melist bahan
|
Hypotesis
|
Memprediksi dengan benar fakta dan membuat hipotesis
|
Memprediksi dengan benar fakta
|
Memprediksi dengan beberapa fakta
|
Menebak-nebak
|
Prosedur
|
Melist semua tahap dan detail-detail khusus
|
Melist semua tahap
|
Melist beberapa tahap
|
Salah melist tahap
|
Hasil
|
Data direkam, diorganisir, dan digrafiskan
|
Data direkam, diorganisir
|
Data direkam
|
Hasil salah atau tidak betul
|
Simpulan
|
Tampak memahami konsep dan membuat hipotesis baru untuk aplikasi pada
situasi lain.
|
Tampak memahami konsep yang telah dipelajari
|
Tampak memahami beberapa konsep
|
Tidak ada kesimpulan atau tampak miskonsepsi
|
Sebagaimana pada contoh di atas,
sebuah rubrik memuat dua komponen, yaitu kriteria dan level unjuk kerja
(performance). Pada setiap rubrik terdiri atas minimal dua criteria dan dua
level unjuk kerja. Kriteria biasanya ditempatkan pada kolom paling kiri, sedangkan
level unjuk kerja ditempatkan pada baris paling atas dalam tabel rubrik. Untuk
memudahkan dalam
penggunaannya, level unjuk kerja terdiri atas level kuantitatif berupa angka
(1, 2, 3, dan 4) dan level kualitatif.
Dalam rubrik biasanya juga disertai dengan deskriptor.
Dekriptor menyatakan harapan kondisi siswa pada setiap level unjuk kerja untuk
setiap kriteria. Pada contoh rubrik, dapat dilihat adanya perbedaan diskriptor
antara tujuan kegiatan yang dirumuskan dengan sangat baik dan tujuan kegiatan
yang dirumuskan dengan baik. Pada deskriptor, siswa dapat melihat syarat unjuk
kerja untuk mencapai sebuah level kriteria. Bagi guru, deskriptor dapat
membantu guru untuk memberikan penilaian secara konsisten pada hasil kerja
siswa.
Dalam implementasinya, penilaian melalui observasi
dengan menggunakan rubrik penilaian memiliki beberapa keunggulan. Ketika rubrik
penilaian ini dikomunikasikan kepada siswa di awal pembelajaran, ekspektasi
terhadap pencapaian level keterampilan proses dapat diidentifikasikan dan
dipahami secara baik oleh siswa. Observasi dapat menghasilkan penilaian yang
konsisten dan obyektif. Selain itu, hasil penilaian dapat menghasilkan umpan
balik (feedback) yang lebih baik. Hasil penilaian dapat menunjukkan level
khusus performans siswa selanjutnya yang harus dicapai oleh siswa.
Dengan demikian, perihal rencana penilaian yang
dilakukan untuk mengukur keterampilan proses sains dapat dikomunikasikan secara
pasti kepada siswa sebelum pelaksanaan pembelajaran. Siswa sebagai subyek
pembelajaran dapat menentukan target yang harus dicapai selama proses
pembelajaran berlangsung. Penilaian pun dapat mencapai tujuan sebagaimana
mestinya.
Permasalahan :
Pada
artikel ini dijelaskan bahwa ada beberapa jenis aspek penilaian dalam keterampilan
proses sains diantaranya : mengamati, mengelompokkan/klasifikasi, menafsirkan, meramalkan,
mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, merencanakan percobaan, menggunakan
alat dan bahan, menerapkan konsep, dan berkomunikasi.
Dalam
penyusunan instrumen untuk penilaian terhadap keterampilan proses sains siswa,
apakah semua aspek penilaian tersebut harus ada dalam instrumen. Atau beberapa
jenis aspek penilaian saja? Jelaskan menurut pendapat anda!
ya menurut saya semua aspek penilaian dalam keterampilan proses sain kelimanya harus ada dalam penyusunan instrumen untuk penilaian keterampilan proses sains. karena kalau pada aspek 1 dan 2 belum kita laksanakan maka aspek ketiga tidak bisa berjalan. oleh karena itu antara kelima aspek tersebut memiliki keterkaitan antara aspek yang satu dengan yang lainnya.
BalasHapusada beberapa jenis aspek penilaian dalam keterampilan proses sains diantaranya : mengamati, mengelompokkan/klasifikasi, menafsirkan, meramalkan, mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep, dan berkomunikasi. Menurut saya dalam penyusunan instrumen untuk penilaian terhadap keterampilan proses sains siswa semua aspek penilaian tersebut harus ada dalam instrumen. karena jenis aspek penilaian dalam keterampilan proses sains tersebut memiliki keterkaitan.
BalasHapusmenurut saya semua aspek penilaian dalam keterampilan proses sains harus ada dalam peyusunan instrumen untuk penilaian keterampilan proses sains karena saling memiliki keterkaitan. jika salah satu aspek tidak terdapat dalam instrumen penilaian maka penilaian tidak berjalan dengan baik. misalnya pada aspek mengamati dan mengelompokkan/menafsirkan, mengamati adalah proses pengumpulan data tentang fenomena atau peristiwa dengan menggunakan inderanya, mengelompokkan adalah suatu sistematika yang digunakan untuk menggolongkan sesuatu berdasarkan syarat-syarat tertentu. bagaimana kita bisa mengelompokkan jika kita tidak melakukan pengamatan terlebih dahulu. jadi semua aspek penilaian keterampilan proses sains harus ada dalam penyusunan instrumen penilaian keterampilan proses sains.
BalasHapusmenurut saya didalam pembelajaran secara langsung memang kita melakukan proses ketrampilan proses sains. jadi proses itu secara langsung sudah ada didalam pembelajaran. jadi memang ada didalam pembelajaran. sehingga bisa dinilai sekaligus dalam pembelajaran
BalasHapusMenurut saya ada beberapa jenis aspek penilaian dalam keterampilan proses sains diantaranya : mengamati, mengelompokkan/klasifikasi, menafsirkan, meramalkan, mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep, dan berkomunikasi. Menurut saya dalam penyusunan instrumen untuk penilaian terhadap keterampilan proses sains siswa semua aspek penilaian tersebut harus ada dalam instrumen. karena jenis aspek penilaian dalam keterampilan proses sains tersebut memiliki keterkaitan.
BalasHapusaspek penilaian dalam keterampilan proses sains tersebut harus ada dalam peyusunan instrumen untuk penilaian keterampilan proses sains karena saling memiliki keterkaitan.
BalasHapusjika hanya 1 atau 2 saja maka penilaian yang dilakukan tidak akan maksimal.
menurut saya ada beberapa jenis aspek penilaian dalam keterampilan proses sains diantaranya : mengamati, mengelompokkan/klasifikasi, menafsirkan, meramalkan, mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep, dan berkomunikasi. Menurut saya dalam penyusunan instrumen untuk penilaian terhadap keterampilan proses sains siswa semua aspek penilaian tersebut harus ada dalam instrumen. karena jenis aspek penilaian dalam keterampilan proses sains tersebut memiliki keterkaitan.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusya menurut saya semua aspek penilaian dalam keterampilan proses sain kelimanya harus ada dalam penyusunan instrumen untuk penilaian keterampilan proses sains.
BalasHapusBanyak pertimbangan guru dlm menyusun instrumen penilaian keterampilan proses sains disesuaikan dengan materi pelajaran dan kerakteristik peserta didik. Semua aspek penilaian dalam keterampilan proses sain kelimanya harus ada dalam penyusunan instrumen untuk penilaian keterampilan proses sains.
BalasHapusmenurut saya didalam keterampilan proses sains, diharapkan semua aspek ini dapat di implikasikan (mengamati, mengelompokkan/klasifikasi, menafsirkan, meramalkan, mengajukan pertanyaan, merumuskan hipotesis, merencanakan percobaan, menggunakan alat dan bahan, menerapkan konsep, dan berkomunikasi). namun pengimplikasiannya perlu mengacu pada karakteristik materi (silabus, kI dan kD)
BalasHapusMenurut saya sebaiknya memang seluruh aspek dapat dinilai. Kita menyesuaikan dengan KI dan KD serta karakteristik siswanya. Setelah itu barulah disusun rencana pembelajaran yang diinginkan.
BalasHapus