Skala
pengukuran merupakan kesepakatan yang digunakan sebagai acuan untuk
menentukan panjang pendeknya interval yang ada dalam alat ukur, sehingga alat
ukur tersebut bila digunakan dalam pengukuran akan menghasilkan data
kuantitatif.
Dilihat dari bentuk instrument dan pernyataan yang
dikembangkan dalam instrument, maka kita mengenal berbagai bentuk skala yang
dapat digunakan dalam pengukuran bidang pendidikan, yaitu: skala Likert,
skala Guttman, Semantic Differensial, dan skala Thurstone. Berikut akan
dijelaskan secara ringkas masing-masing bentuk skala pengukuran dalam
penelitian.
1. Skala Guttman
Skala Guttman dikembangkan oleh Louis Sumber : Guttman.
Skala Guttman disebut juga dengan Scalogram atau analisis skala (Scale
Analysis). Louis Guttman mengembangkan skala ini untuk mengatasi masalah yang
dihadapi oleh Likert dan Thurstone. Di samping itu, skala Guttman mempunyai
asumsi menurut Babbie (Sukardi, 2011:149) bahwa dasar dari fakta di mana
beberapa item di bawah pertimbangan yang harus dibuktikan menjadi petunjuk kuat
satu variabel dibanding variabel lainnya.
Skala
pengukuran dengan tipe ini akan didapatkan jawaban yang tegas. diantaranya :
‘ya’ dan ‘tidak’; ‘benar-salah’, dan lain-lain. Data yang diperoleh dapat
berupa data interval atau rasio dikhotomi (dua alternatif). Jadi, kalau pada
Skala Likert terdapat 1,2,3,4,5 interval, dari kata ‘sangat setuju’ sampai
‘sangat tidak setuju’, maka pada Skala Guttman hanya ada dua interval yaitu
‘setuju’ atau ‘tidak setuju’
Penelitian
menggunakan Skala Guttman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas
terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan. Skala ini mempunyai ciri penting,
yaitu merupakan skala kumulatif dan mengukur satu dimensi saja dari satu
variabel.
Skala Guttman memiliki beberapa ciri penting, yaitu:
·
Skala Guttman merupakan skala komulatif. Jika
seseorang responden mengiyakan pertanyaan atau pernyataan yang berbobot lebih
berat, maka ia juga akan mengiyakan pertanyaan atau pernyataan yang kurang
berbobot lainya.
·
Skala Guttman mengukur satu dimensi saja dari suatu
variabel yang multidimensi, sehingga skala ini mempunyai sifat unidimensional.
Tujuan utama pembuatan skala Guttman pada prinsipnya
untuk menentukan jika sikap yang diteliti benar-benar mencakup berdimensi
tunggal. Sikap dikatakan berdimensi tunggal bila sikap tersebut menghasilkan
skala komulatif. Sebagai misal, jika seorang responden yang setuju terhadap
item 2, maka ia berarti juga setuju terhadap item 1. Jika seorang responden
yang setuju dengan item 3, maka juga ia setuju dengan item 2 dan 1, demikian
seterusnya.
Skala Guttman merupakan skala yang digunakan untuk
memperoleh jawaban dari responden yang bersifat jelas (tegas) dan konsisten.
Kata-kata yang digunakan, misalnya: ya – tidak, benar – salah, positif –
negatif, yakin – tidak yakin dan sebagainya. Data yang diperoleh berupa data
interval atau rasio dikotomi (dua alternatif pilihan). Pada skala Guttman hanya
mempunyai dua skor, misal pada sikap yang mendukung sesuai dengan pertanyaan atau
pernyataan diberi skor 1 dan sikap yang tidak mendukung sesuai dengan
pertanyaan atau pernyataan diberi skor 0.
Cara membuat skala guttman adalah sebagai berikut:
1. Susunlah
sejumlah pertanyaan yang relevan dengan masalah yang ingin diselidiki.
2. Lakukan penelitiaan
permulaan pada sejumlah sampel dari populasi yang akan diselidiki, sampel yang
diselidiki minimal besarnya 50.
3. Jawaban yang
diperoleh dianalisis, dan jawaban yang ekstrim dibuang. Jawaban yang ekstrim
adalah jawaban yang disetujui atau tidak disetujui oleh lebih dari 80%
responden.
4. Susunlah
jawaban pada tabel Guttman.
5. Hitunglah
koefisien reprodusibilitas dan koefisien skalabilitas.
Contoh minat dalam pelajaran kimia
1. Apakah anda menyukai
pelajaran kimia?
a. Ya b.
Tidak
2. Bagaimana pendapat anda,
bila pembelajaran kimia menggunakan laboratorium virtual?
a. Setuju b.
Tidak Setuju
2. Skala Thurstone
Skala thrustone merupakan teknik formal yang pertama bagi
pengukuran suatu sikap yang dikembangkan oleh Louis L. Thurstone pada tahun
1928. Skala thurstone terdiri dari sejumlah pertanyaan dalam hal mana responden
ditanya tentang setuju atau tidak setujunya. Dalam skala thrustone penilai
memberikan tanda centang (dibawah kolom setuju (agree) atau tidak setuju (disagree)
atau dibawah kolom angka yang menggambarkan kontinum, dari yang dianggap paling
sesuai dengan pernyataan sampai yang dianggap tidak sesuai dengan pernyataan.
Contoh: Minat
dalam pembelajaran kimia
|
Pernyataan
|
7
|
6
|
5
|
4
|
3
|
2
|
1
|
|
1.
Saya suka belajar kimia
|
|||||||
|
2.
Pelajaran kimia sangat bermanfaat
|
|||||||
|
3.
Saya berusaha hadir setiap ada pelajaran kimia
|
|||||||
|
4.
Pelajaran kimia membosankan
|
|||||||
|
Dan
seterusnya…
|
3. Skala Semantic Differential
Perbedaan Semantik (Semantic Differential)
dikembangkan oleh C.E Osgood, Suci dan Tannenbaum dengan maksud untuk mengukur
pengertian suatu obyek atau konsep oleh seseorang. Responden diminta untuk
menilai suatu obyek atau konsep, (misalnya: sekolah, guru, pelajaran dan
sebagainya). Skala bipolar adalah skala yang berlawanan dan mempunyai tiga
dimensi dasar sikap seseorang terhadap obyek atau konsep tersebut. Menurut
Iskandar (2000:154) tiga dimensi yang dimaksud, yaitu:
1.Potensi,
yaitu kekuatan atau atraksi fisik suatu obyek.
2.Evaluasi,
yaitu hal-hal yang menguntungkan atau tidak menguntungkan suatu obyek.
3.Aktivitas,
yaitu tingkatan gerakan suatu obyek
Sifat dari tiga dimensi tersebut, misalnya sebagai
berikut ini.
Dalam penelitian, skala perbedaan semantik (Semantic
Differential) dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana pandangan seseorang
terhadap suatu obyek atau konsep apakah sama atau berbeda. Obyek atau konsep
dapat menjangkau banyak masalah, seperti: masalah politik, pendidikan, sekolah
seseorang dan sebagainya. Suatu contoh dari alat ukur yang digunakan untuk
menilai sekolah menurut Kerlinger (Nazir, 2009:344) sebagai berikut.
Huruf dalam tanda kurung menyatakan: A (Aktivitas), E
(Evaluasi) dan P (Potensi). Penempatan sifat bipolar tidak boleh monoton, dari
baik ke buruk, tetapi kadangkala dibalik seperti ditandai oleh *. Hal ini
dilakukan agar dapat menghindari tendensi bias dari responden.
Langkah-langkah dalam menyusun skala perbedaan
semantik (semantic differensial) menurut Nazir (2009:345) sebagai berikut ini.
1.
Tentukan obyek atau konsep yang diukur.
2.
Pilih sifat bipolar yang relevan dengan masalah yang
diteliti.
3.
Untuk mencari sifat bipolar yang sesuai dengan obyek
atau konsep yang diinginkan, maka terlebih dahulu perlu dicari jawaban dari dua
kelompok yang berbeda secara empiris.
Contoh : Penilaian
pelajaran kimia
Menyenangkan
!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..! Membosankan
Sulit
!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..!
Mudah
Bermanfaat
!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..! Sia-Sia
Menantang
!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..!……..! Menjemukan
PERMASALAHAN:
Dalam penilaian otentik
ada 3 ranah penilaian, diantaranya yaitu : ranah kognitif, afektif dan
psikomotor. Teknik penilaian dan Instrumen yang digunakan dalam menilai ketiga
ranah tersebut berbeda-beda, misalnya
pada ranah afektif terdiri dari observasi, self assesment, peer assesment dan
jurnal.
Yang ingin saya tanyakan, pada ranah apakah kita bisa menggunakan
skala semantic different dan pada instrumen yang mana? Jelaskan dengan contoh!


kala Diferensial Semantik merupakan skala yang digunakan untuk mengukur sikap, berisikan serangkaian karakteristik bipolar (dua kutub) seperti panas-dingin, Tidak ramah-Ramah, dan sebagainya, yang tersusun pada satu garis kotinom dimana jawabang yang sangat positif berada diposisi paling kanan dan jawaban yang sangat negatif pada posisi aling kiri, atau sebaliknya.
BalasHapusCONTOH:
Beri Nilai Gaya Kepemimpinan Anda
Bersahabat 5 4 3 2 1 Tidak bersahabat
Tepat Janji 5 4 3 2 1 Lupa Janji
Bersaudara 5 4 3 2 1 Memusuhi
Memberi Pujian 5 4 3 2 1 Mencela
Mempercayai 5 4 3 2 1 Mendominasi
Responden dapat memberi penilaian dengan angka 5, berarti persepsi responden terhadap pemimpin itu sangat positif, sedangkan bila memberi angka 1, maka persepsi pemimpinnya sangat negative
Diferensial Semantik merupakan skala yang digunakan untuk mengukur sikap, berisikan serangkaian karakteristik bipolar (dua kutub) seperti panas-dingin, Tidak ramah-Ramah, dan sebagainya, yang tersusun pada satu garis kotinom dimana jawabang yang sangat positif berada diposisi paling kanan dan jawaban yang sangat negatif pada posisi aling kiri, atau sebaliknya.
BalasHapusCONTOH:
Beri Nilai Gaya Kepemimpinan Anda
Bersahabat 5 4 3 2 1 Tidak bersahabat
Tepat Janji 5 4 3 2 1 Lupa Janji
Bersaudara 5 4 3 2 1 Memusuhi
Memberi Pujian 5 4 3 2 1 Mencela
Mempercayai 5 4 3 2 1 Mendominasi
Responden dapat memberi penilaian dengan angka 5, berarti persepsi responden terhadap pemimpin itu sangat positif, sedangkan bila memberi angka 1, maka persepsi pemimpinnya sangat negative
menurut saya Diferensial Semantik merupakan skala yang digunakan untuk mengukur sikap, berisikan serangkaian karakteristik bipolar (dua kutub) seperti panas-dingin, Tidak ramah-Ramah, dan sebagainya, yang tersusun pada satu garis kotinom dimana jawabang yang sangat positif berada diposisi paling kanan dan jawaban yang sangat negatif pada posisi aling kiri, atau sebaliknya.
BalasHapusCONTOH:
Beri Nilai Gaya Kepemimpinan Anda
Bersahabat 5 4 3 2 1 Tidak bersahabat
Tepat Janji 5 4 3 2 1 Lupa Janji
Bersaudara 5 4 3 2 1 Memusuhi
Memberi Pujian 5 4 3 2 1 Mencela
Mempercayai 5 4 3 2 1 Mendominasi
Responden dapat memberi penilaian dengan angka 5, berarti persepsi responden terhadap pemimpin itu sangat positif, sedangkan bila memberi angka 1, maka persepsi pemimpinnya sangat negative
Skala sumantik diferensial yaitu skala untuk mengukur sikap, tetapi bentuknya bukan pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum di mana jawaban yang sangat positif terletak dibagian kanan garis, dan jawaban yang sangat negative terletak dibagian kiri garis, atau sebaliknya.
BalasHapusData yang diperoleh melalui pengukuran dengan skala semantic differential adalah data interval. Skala bentuk ini biasanya digunakan untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang dimiliki seseorang.
CONTOH:
Beri Nilai Gaya Kepemimpinan Anda
Bersahabat 5 4 3 2 1 Tidak bersahabat
Tepat Janji 5 4 3 2 1 Lupa Janji
Bersaudara 5 4 3 2 1 Memusuhi
Memberi Pujian 5 4 3 2 1 Mencela
Mempercayai 5 4 3 2 1 Mendominasi
Responden dapat memberi penilaian dengan angka 5, berarti persepsi responden terhadap pemimpin itu sangat positif, sedangkan bila memberi angka 1, maka persepsi pemimpinnya sangat negative
Penilaian sikap cocok menggunakan skala semantik deffrent. Contoh : Pengunaan Skala Diferensial Semantik mengenai gaya kepemimpinan Ketua BEM suatu universitas
BalasHapusCerdas 7 6 5 4 3 2 1 Bodoh
Demokrasi 7 6 5 4 3 2 1 Otoriter
Tidak Ramah 7 6 5 4 3 2 1 Ramah
dan pertanyaan-pertanyaan lainnya….
Pada contoh diatas, responden memberika tanda (x) pada nilai yang sesuai dengan persepsinya mengenai gaya kepemimpinan ketua BEM tersebut. Skala Diferensial Semantik digunakan untuk memberikan penilaian terhadap suatu konsep atau objek tertentu, misalnya kinerja pegawai, gaya kepemipinan, penilaian suatu pelajaran dan sebagainya.
menurut saya skala semantik differensial dapat digunakan untuk menilai sikap. misalnya ketika kita ingin meminta pendapat responden mengenai suatu hal , misalnya gaya kepemimpinan kepala sekolah. dimana ada skalanya ada 1-7, skala 7 paling bagus dan skala 1 paling tidak bagus. sehingga dalam menilai dengan semantik differensial dapat dilihat respon dari angka tersebut.
BalasHapusSkala diferensial yaitu skala untuk mengukur sikap, tetapi bentuknya bukan pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum di mana jawaban yang sangat positif terletak dibagian kanan garis, dan jawaban yang sangat negative terletak dibagian kiri garis, atau sebaliknya.
BalasHapusData yang diperoleh melalui pengukuran dengan skala semantic differential adalah data interval. Skala bentuk ini biasanya digunakan untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang dimiliki seseorang.
Contoh : Penggunaan skala Semantik Diferensial mengenai gaya kepemimpinan kepala sekolah.
Demokrasi 7 6 5 4 3 2 1 Otoriter
Bertanggung Jawab 7 6 5 4 3 2 1 Tidak Bertanggung Jawab
Memberi Kepercayaan 7 6 5 4 3 2 1 Mendominasi
Menghargai Bawahan 7 6 5 4 3 2 1 Tidak Menghargai Bawahan
Keputusan Diambil Bersama 7 6 5 4 3 2 1 Keputusan Diambil Sendiri
Semantic Deferensial
BalasHapusBentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban “sangat positifnya” terletak di bagian kanan garis, dan jawaban yang “sangat negatif” terletak di bagian kiri garis, atau sebaliknya. Data yang di peroleh adalah daya interval, dan biasanya skala ini di gunakan untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu yang di punyai oleh seseorang.
Skala defferensial yaitu skala untuk mengukur sikap dan lainnya, tetapi bentuknya bukan pilihan ganda atau checklist tetapi tersusun dalam satu garis kontinum. Sebagai contoh skala semantik defferensial mengukur gaya kepemimpinan seorang pimpinan (pimpinan).
BalasHapusGaya Kepemimpinan
Demokrasi 7 6 5 4 3 2 1 Otoriter
Bertanggung jawab 7 6 5 4 3 2 1 Tidak ber-tanggung jawab
Memberi Kepercayaan 7 6 5 4 3 2 1 Mendomi-nasi
Menghargai bawahan 7 6 5 4 3 2 1 Tidak menghargai bawahan
Keputusan diambil bersama 7 6 5 4 3 2 1 Keputusan diambil sendiri
Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawabannya sangat positifnya terletak dikanan garis, dan jawaban yang sangat negatif terletak dibagian kiri garis atau sebaliknya. Data yang diperoleh adalah data interval dan baisanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang.
menurut saya skala semantik differensial dapat digunakan untuk menilai sikap. misalnya ketika kita ingin meminta pendapat responden mengenai suatu hal , misalnya gaya kepemimpinan kepala sekolah. dimana ada skalanya ada 1-7, skala 7 paling bagus dan skala 1 paling tidak bagus. sehingga dalam menilai dengan semantik differensial dapat dilihat respon dari angka tersebut.
BalasHapusMenurut saya penilaian skala semantik differensial bisa saja digunakan untuk menilai sikap. misalnya kita meminta responden (guru) untuk menilai gaya kepemimpinan kepala sekolah. Dengan rentang skala yang ada 1-5, skala 5 paling bagus dan skala 1 paling tidak bagus.
BalasHapus