Pengantar HOTS
Higher Orde Thinking Skill (HOTS) dalam bahasa Indonesia berarti Kemampuan
Berpikir Tingkat Tinggi. Kemampuan berpikir ini akan muncul ketika individu
atau siswa dihadapkan pada masalah yang belum mereka temui sebelumnya.
Keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran merupakan aplikasi
proses berpikir untuk situasi yang kompleks dan memiliki banyak variabel. Semua
siswa dapat berpikir, tetapi kebanyakan dari siswa membutuhkan dorongan dan
bimbingan untuk proses berpikir tingkat tinggi.
Test yang mendorong keterampilan berpikir tingkat tinggi diperlukan untuk
mendorong siswa memiliki kemampuan ini. Higher Order Thinking Skills (HOTS)
atau keterampilan berpikir tingkat tinggi menurut King, Goodson, dan Rohani
(2004) meliputi berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan kreatif.
Semuanya diaktifkan ketika individu mendapatkan masalah yang tidak familiar,
tidak tentu dan penuh pertanyaan. Sedangkan kategori berpikir tingkat tinggi
menurut Brookhart (2010) meliputi beberapa aspek, yaitu:
1) Analisis, evaluasi, kreasi,
2) Penalaran yang logis atau logika beralasan (logical reasoning),
3) Keputusan dan berpikir kritis,
4) Pemecahan masalah,
5) Kreatifitas dan berpikir kreatif.
Saat ini teori-teori yang berkembang tentang Higher Orde Thinking Skill
lebih banyak difokuskan tentang bagaimana keterampilan ini dipelajari dan
dikembangkan. Strategi pengajaran yang tepat serta lingkungan belajar yang
dapat memfasilitasi kemampuan berfikir siswa merupakan faktor yang penting
untuk tercapainya pendekatan ini. Seperti halnya ketekunan siswa, pemantauan
diri, dan berfikir terbuka serta sikap fleksibel.
Beberapa konsep utama yang sesuai dengan pendekatan HOTS adalah mengikuti
ketiga anggapan tentang berpikir dan belajar. Yaitu:
1.
Berpikir tidak bisa tidak dihubungkan dari tingkat, mereka saling
tergantung satu sama lain
2.
Berfikir atau tidak berpikir dapat belajar tanpa isi pokok, hanya poin
teoritis. Dalam kehidupan nyata, siswa akan mempelajari materi pelajaran
berdasarkan pada pengalaman sekolahnya.
3.
HOTS meliputi berbagai cara berpikir, memproses, serta menerapkan pada
situasi gabungan dan variabel kelipatan setelahnya.
Tingkat berpikir bergantung pada hubungan real-word situation (situasi
dunia nyata) dengan variabel kelipatan penawaran ke tantangan berpikir
memproses. Keberhasilan berfikir tingkat tinggi bergantung pada kemampuan
individu dalam menerapkan, merombak, dan memperindah pengetahuan dalam konteks
situasi berpikir.
Karakteristik HOTS
Secara umum, keterampilan berfikir terdiri atas empat tingkat, yaitu:
menghafal (recall thinking), dasar (basic thinking), kritis (critical thinking)
dan kreatif (creative thinking) (Krulik & Rudnick, 1999). Berfikir kritis
adalah berfikir yang memeriksa, menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek situasi
atau masalah. Termasuk di dalamnya mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan
menganalisa informasi. Berfikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan
pemahaman dan mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan.
Kemampuan menarik kesimpulan yang benar dari data yang diberikan dan mampu
menentukan ketidak-konsistenan dan pertentangan dalam sekelompok data merupakan
bagian dari keterampilan berfikir kritis. Dengan kata lain, berfikir kritis
adalah analitis dan refleksif.
Bonnie dan Potts (2003) berpendapat bahwa terdapat beberapa kemampuan yang
terpisah yang berkaitan dengan kemampuan yang menyeluruh untuk berpikir kritis,
yaitu: menemukan analogi-analogi dan macam hubungan yang lain antara
potongan-potongan informasi, menentukan kerelevanan dan kevalidan informasi
yang dapat digunakan untuk pembentukan dan penyelesaian masalah, serta
menemukan dan mengevaluasi penyelesaian atau cara-cara lain dalam menyelesaikan
masalah. Meskipun semua pendapat di atas berbeda, namun pada hakekatnya
memiliki kesamaan pada aspek mengumpulkan, mengevaluasi, dan menggunakan
informasi secara efektif.
Tingkatan yang terakhir adalah berfikir kreatif yang sifatnya orisinil dan
reflektif. Hasil dari keterampilan berfikir ini adalah sesuatu yang kompleks.
Kegiatan yang dilakukan di antaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan
menentukan efektifitasnya. Berfikir kreatif meliputi juga kemampuan menarik
kesimpulan yang biasanya menelorkan hasil akhir yang baru.
Keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam kimia
Berfikir Kritis dalam kimia adalah berfikir yang memeriksa, menghubungkan,
dan mengevaluasi semua aspek situasi atau masalah. Termasuk di dalamnya
mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisa informasi. Berfikir
kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan mengidentifikasi materi
yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Kemampuan menarik kesimpulan yang benar
dari data yang diberikan dan mampu menentukan ketidak-konsistenan dan
pertentangan dalam sekelompok data merupakan bagian dari keterampilan berfikir
kritis.
Berfikir Kreatif kimia yang sifatnya orisinil dan reflektif. Hasil dari
keterampilan berfikir ini adalah sesuatu yang kompleks. Kegiatan yang dilakukan
di antaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan
efektifitasnya. Berfikir kreatif meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan
yang biasanya menelorkan hasil akhir yang baru.
Pemecahan masalah dalam kimia adalah berfikir yang memeriksa,
menghubungkan, dan mengevaluasi semua aspek situasi atau masalah. Termasuk di
dalamnya mengumpulkan, mengorganisir, mengingat, dan menganalisa informasi.
Berfikir kritis termasuk kemampuan membaca dengan pemahaman dan
mengidentifikasi materi yang dibutuhkan dan tidak dibutuhkan. Kemampuan menarik
kesimpulan yang benar dari data yang diberikan dan mampu menentukan
ketidak-konsistenan dan pertentangan dalam sekelompok data merupakan bagian
dari keterampilan berfikir kritis.
Menyimpulkan konsep dalam kimia yang sifatnya orisinil dan reflektif. Hasil
dari keterampilan berfikir ini adalah sesuatu yang kompleks. Kegiatan yang
dilakukan di antaranya menyatukan ide, menciptakan ide baru, dan menentukan
efektifitasnya. Berfikir kreatif meliputi juga kemampuan menarik kesimpulan
yang biasanya menelorkan hasil akhir yang baru.
Teknik Penulisan Butir HOTS dalam Pembelajaran Kimia
1. Perhatikan cakupan materi kimia yang
diharuskan untuk tiap jenjang SMP atau SMA (kurikulum kimia).
2. Perhatikan beberapa kompetensi yang
terkait dengan HOTS dan diturunkan menjadi indicator dan tujuan sesuai dengan
karakteristik HOTS kimia.
3. Menggunakan hukum dasar kimia
pengetahuan atau kemampuan dasar nya untuk menyesaikan permasalahan yang ada
kaitannya dengan kimia.
4. Dianjurkan untuk menyediakan berbagai
macam data kimia (kualitatif, tabel, grafik, hasil dari percobaan yang
dilakukan, laporan, bahan bacaan, hasil observasi, dll) sebagai stimulus untuk
menjawab soal-soal HOTS
5. Berbagai macam data kimia yang
disediakan seharusnya memberikan informasi kepada siswa merujuk kepada hokum
dasar kimia sehingga dapat diolah lebih lanjut
6. Menulis contoh soal HOTS tentang kimia
Penilaian Otentik HOTS dalam Pembelajaran Kimia
Penelitian yang dilakukan oleh Shidiq, Masykuri dan Susanti (2015), menilai
HOTS menggunakan instrumen Two-Tier Multiple Choice (TTMC) pada materi
Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Pada Siswa Kelas XI SMAN 1 Surakarta.
Hasil penelitian sebagai berikut:
1. Pedoman Skor dan Penilaian
2. HOTS Pada Kategori Kelas Rendah
3. HOTS Pada Kategori Kelas Sedang
4. HOTS Pada Kategori Kelas Tinggi
5. Perbandingan Pada Tiap Kelas
Pembahasana sebagai berikut:
Instrumen penilaian Two-tier Multiple Choice (TTMC) yang diberikan selain
sebagai alat evaluasi pada tes formatif untuk mengetahui kemampuan siswa juga
sebagai intrumen guna mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi pada siswa,
karena instrumen TTMC ini dikembangkan berdasarkan indikator Higher Order
Thinking Skillss (HOTS). Sehingga skor yang dipeloreh siswa pada tes dengan
menggunakan instrumen penilaian Two-tier Multiple Choice ini dapat berfungsi
ganda. Tingkat berpikir siswa dibagi kedalam 5 kategori, yaitu sangat rendah,
rendah, sedang, tinggi, dan sangat tinggi.
Pengujian dilakukan pada kelas yang memiliki rata-rata rendah, sedang dan
tinggi. Hal ini dimaksudkan guna melihat perbedaan HOTS disetiap jenjang yang
berbeda tersebut.
===============
Berdasarkan data pada Gambar 1 yang merupakan kelas dengan kategori rendah,
menunjkkan hasil persentase HOTS siswa dengan kategori sangat rendah sebesar
16,1%, rendah 38,7% dan sedang 45,2%. Pada kelas ini belum terdapat siswa
dengan kategori HOTS tinggi dan sangat tinggi. Hal ini dikarenakan kelas XI IPA
7 memiliki nilai rata-rata paling rendah dibandingkan dengan kelas lainnya.
===============
Sedangkan Gambar 2 terlihat bahwa persentase HOTS siswa dengan kategori
sangat rendah sebesar 3%, rendah 21,2%, dan sedang 75,7%. Dibandingkan dengan
kelas sebelumnya pada kelas XI IPA 6 memiliki persentase yang lebih baik
dibandingkan dengan kelas XI IPA 1. Persentase siswa dengan kemampuan HOTS
sedang meningkat tajam, sehingga bisa disimpulkan kemampuan HOTS yang dimiliki
kelas XI IPA 6 lebih baik dibandingkan dengan kelas XI IPA 7.
===============
Pada Gambar 3 menunjukan persentase HOTS dari kelas XI IPA 1 yang merupakan
kelas dengan rata-rata nilai tinggi, hasilnya adalah siswa dengan kategori
sangat rendah sebesar 3,2%, rendah 16,1%, sedang 35,5%, 45,2% tinggi. Pada
kelas ini menunjukkan hasil pengujian yang terbaik dari kelas lainnya, karena
pada kelas ini terdapat siswa dengan kategori HOTS tinggi sebesar 45,2% yang
tidak ditemukan pada kelas lainnya.
===============
Grafik perbandingan HOTS untuk ketiga kelas disajikan pada Gambar 4.
PERMASALAHAN:
PERMASALAHAN:
Keterampilan berpikir tingkat tinggi (HOTS) dalam pembelajaran merupakan aplikasi proses berpikir untuk situasi yang kompleks dan memiliki banyak variabel.
untuk mengukur kemampuan berfikir tingkat tinggi ini diperlukan sebuah test atau soal. terkadang tidak semua siswa dapat menjawab soal soal HOTS ini. bagaimanakah cara anda sebagai guru, agar kebanyakan siswa dapat menjawab pertanyaan HOTS.? jelaskan menurut pendapat anda!
untuk mengukur kemampuan berfikir tingkat tinggi ini diperlukan sebuah test atau soal. terkadang tidak semua siswa dapat menjawab soal soal HOTS ini. bagaimanakah cara anda sebagai guru, agar kebanyakan siswa dapat menjawab pertanyaan HOTS.? jelaskan menurut pendapat anda!






- Kurikulum yang berlaku diindonesia yaitu kurikulum 2013. Dimana K13 menuntut siswa memiliki pemikiran Level HOTS yaitu siswa dituntut sampai ke level C-4(sintesis/analisis), bahkan sampai level C-6. menurut saya yang perlu dilakukan guru agar siswa mampu mencapai pemikiran HOTS adalah guru menyampaikan pembelajaran yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. materi kimia yang ada dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari seperti dikaitkan dengan lingkunga,kesehatan,pendidikan dan lain-lain. dengan begitu siswa dapat menganalisis dan berfikir HOTS dari materi kimia yang telah disampaikan.
BalasHapusmenurut saya yaitu dengan cara mengajarkan Ilmu pengetahuan yang terkait langsung dengan kehidupan di masyarakat.Dengan demikian peserta didik merasakan bahwa materi pelajaran yang diperoleh di dalam kelas berguna dan dapat dijadikan bekal untuk terjun di masyarakat.Tantangan-tantangan yang terjadi di masyarakat dapat dijadikan stimulus kontekstual dan menarik dalam Penilaian, sehingga munculnya soal-soal berbasis soal-soal HOTS, yang diharapkan dapat menambah motivasi belajar peserta didik.Soal-soal HOTS merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.Permasalahan kontekstual yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini terkait dengan lingkungan hidup, kesehatan, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.
BalasHapusKurikulum yang berlaku diindonesia yaitu kurikulum 2013. Dimana K13 menuntut siswa memiliki pemikiran Level HOTS yaitu siswa dituntut sampai ke level C-4(sintesis/analisis), bahkan sampai level C-6. sebaiknya kita tidak perlu memandang HOTS ini hanya sebatas soal semata, tetapi lebih dari itu yaitu menjadi kemampuan yang melekat selamanya pada diri siswa. caranya yaitu dengan merancang pembelajaran yang menunjang, seperti misalnya sering-sering memberikan contoh pemecahan masalah secara HOTS dengan materi kontekstual yang berkaitan dengan kehidupan siswa
BalasHapusSeperti kita ketahui bahwa, agar siswa bisa terbiasa menggunakan kemampuan HOTS, guru sebaiknya memberikan contoh-contoh yang dekat dalam keseharian siswa. Sesuai dengan itu, maka jika contoh dan soal yang diberikan merupakan hal yang sering dijumpai siswa, walau soal tingkat C4 (analisis) – C6 (evaluasi) sekalipun bisa di kreasi kan oleh siswa sesuai dengan pengetahuan yang telah dimilikinya.
BalasHapusKonsep utama yang sesuai dengan pendekatan HOTS adalah:
1. Berpikir harus selalu dihubungkan dan dikaitkan, mereka saling tergantung satu sama lain
2. Berfikir maupun tidak berpikir, akan sama-sama belajar tanpa isi materi (hanya poin teoritis saja). Siswa akan mempelajari materi pelajaran berdasarkan pada pengalaman sekolahnya.
3. HOTS meliputi berbagai cara berpikir, memproses, serta menerapkan pada situasi gabungan dan masalah lain yang dihadapi yang berkaitan setelahnya.
Tingkat berpikir bergantung pada hubungan real-word situation (situasi dunia nyata) dengan masalah lain yang dihadapi setelahnya ke tantangan proses berpikir. Keberhasilan HOTS bergantung pada kemampuan individu dalam menerapkan, merombak, dan memperindah pengetahuan dalam konteks situasi berpikir.
agar peserta didik dapat menjawab soal HOTS, maka soal dan pelaksanaan pembelajarannya harus sejalan, pendidik harus menguasai materi ajar, keterampilan dalam menulis soal (kontruksi soal), dan kreativitas dalam memilih stimulus soal sesuai dengan fenomena yang ada disekitarnya (kontekstual). Selain itu, agar siswa dapat dengan mudah menjawab, pendidik juga perlu memperhatikan penggunaan bahasa yang mudah dipahami, proporsional dan sistematis untuk mengukur Indikator Ketercapaian Kompetensi (IKK) secara efektif serta memiliki kedalaman sehingga mampu mengarahkan pola pikir siswa menjawab pertanyaannya.
BalasHapusPada kurikulum 2013 sekarang ini siswa sangat dituntut untuk berpikir sampai kepada level C-6.Agar siswa mampu menjawab pertanyaan yang diberikan guru, makan dalam membelajarkan materi pelajaran kepada siswa, guru dapat memberikan stimulus/ kaitan pelajaran dengan kehidupan sehari-hari. Dengan begitu akan sangat merangsang siswa utuk lebih cepat memahami pelajaran/ materi yang sedang dibelajarkan. Stimulus dapat berupa contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari yang ada kaitannya dengan materi.
BalasHapusSehingga dengan begitu soal-soal yang berbasis HOTS yang dapat terselesaikan, karena dasar pengajaran HOTS ini merupakan pengajaran yang mengarah kepada bagaimana kaitan materi dengan kehidupan nyata.
dengan cara mengajarkan Ilmu pengetahuan yang terkait langsung dengan kehidupan di masyarakat. dan dalam pembelajaran harus menerapkan pembelajaran yang HOTS, karena akan terasa ganjil mana kala pembelajarannya biasa-biasanya saja, tetapi guru langsung memberikan soal-soal HOTS pada saat penilaian hasil belajar siswa. jadi agar siswa dapat menjawab soal HOTS maka harus menerapkan pembelajaran yang HOTS dan juga mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan masyarakat.
BalasHapusmenurut saya guru harus membiasakan mengajar materi yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari dan juga membiasakan siswa menimbulkan
BalasHapus1. Kemampuan Problem Solving
2. Berfikir Kritis (critical Thinking)
3. Berfikir Kreatif (Creative Thinking)
4. Kemampuan berargumenasi (Reasoning)
keempat keterampilan tersebut guru harus membiasakan siswanya dalam proses belajar mengajar. baru lah guru bisa menerapkan atau menggunakan tes dengan menggunakan soal HOTS tersebut. dan soalnya yang berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari biar mempermudah siswa dalam menjawab soal yang diberikan karena permasalahan yang diberikan dekat dalam kehidupan siswa.
Sebagai guru harus mampu membimbing siswa untuk mampu berfikir kritis dan cerdas berada pada level HOTS. Guru dalam menulis soal-soal HOTS pada dasarnya adalah hal yang baik, tetapi hal ini harus diawali dengan pembelajaran yang HOTS juga, karena akan terasa ganjil mana kala pembelajarannya biasa-biasanya saja, tetapi guru tiba-tiba memberikan soal-soal HOTS pada saat penilaian hasil belajar siswa. Dengan demikian, penilaian HOTS harus diawali atau didasari oleh pembelajaran yang HOTS.
BalasHapusDedengan cara mengajarkan Ilmu pengetahuan yang terkait langsung dengan kehidupan di masyarakat. dan dalam pembelajaran harus menerapkan pembelajaran yang HOTS, karena akan terasa ganjil mana kala pembelajarannya biasa-biasanya saja, tetapi guru langsung memberikan soal-soal HOTS pada saat penilaian hasil belajar siswa. jadi agar siswa dapat menjawab soal HOTS maka harus menerapkan pembelajaran yang HOTS dan juga mengaitkan pengetahuan dengan kehidupan masyarakat.
BalasHapus